
Mengajak Siswa Bercitra Diri Positif
“..Untuk tiap tiap umat diantara kamu sekalian,Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki ,niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja). Tetapi Allah hendak menguji terhadap pemberianNya kepadamu ,maka berlomba –lombalah berbuat kebajikan…” QS Al Maidah : 48
Diera serba instan dengan semakin terbukanya akses informasi dan komunikasi tanpa batas akan sangat mudah bagi siswa mengimitasi-menidentifikasi-menginternalisasi nilai nilai dan gaya hidup global yang bisa saja bertentangan dengan norma kehidupan bangsa.Sehingga peran pendidikan sekolah tudak bisa melekat dan membekas sebagai pewarna karakter siswa bersangkutan.
Aplikasi pendidikan karakter bagi siswa SMA semestinya dapat membangun self image remaja itu sendiri. Siswa bangga dengan kesan penampilannya yang membawa nilai nilai budaya dan kearifan local,tidak kebarat baratan dengan values of life yang tidak jelas . Berikut upaya yang bisa dilakukan untuk membentuk citra diri positif siswa,sebagai berikut :
Pertama . Cintai keunggulan “Nilai- Hidup” lokal ,kenalilah nilai positif budaya global.
Siswa harus mendapatkan penanaman nilai nilai local seperti agama,kebangsaan ,lingkungan masyarakat dan nilai nilai keluarga sejak dini. Sehingga makin kenal,dijalani ,menjadi kebiasaan dan nafas kegiatan hidup sehari –hari membuat remaja semakin menghayati dan bangga menjalani kehidupan nya sesuai nilai norma norma budaya bangsa sendiri sekaligus bisa mengenali nilai postitif budaya global.
“Contoh kasus”: Strategi Pembelajaran berbasis diskusi ,sosio drama,adu debat ,simulasi perilaku,,drama tradisional dan role playing,merupakan upaya pembiasaan dan pengenalan nilai nilai nudaya bangsa.
Kedua,Peka terhadap perubahan,dan Mempersiapkan diri untuk beradaptasi.
Siswa harus disiapkan untuk peka terhadap perubahan mulai dari perubahan yang terjadi dalam diri sendiri,lingkungan social sampai gadget yang melingkupinya.Agar mereka tidak mengalami gegar budaya. Dengan memiliki kepekaan terhadap perubahan remaja diharapkan tidak hanya ikut ikutan life style yang tidak bertanggung jawab. Selain itu remaja dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai perubahan yang mungkin saja tidak bisa dihindarinya tanpa kehilangan jati diri.
“Contoh kasus”.Ketika pembelajaran sudah menggunakan basis ICT dan siswa harus berhubungan dengan internet dalam menyelesaikan tugas tugasnya . Siswa memiliki kemampuan untuk fokus dengan tugasnya daripada mengakses situs stus yang dapat merusak mental dan moralnya.
Ketiga :Menjaga Harga diri dan Menunjukan Jati Diri.
Siswa perlu memiliki rasa percaya diri ,agar harga dirinya positif,siap menerima kenyataan hidupnya dan tidak hidup dalam khayalan akibat pengaruh gaya hidup yang menggoda. Siswa memiliki kepercayaan diri bahwa kehidupan bukan hanya kesenangan indrawi ,namun juga mempercayai potensi keberbatakan dan fokus pada pengembangannya. Sehingga tanpa menggunakan atribut kemewahan semu yang dimiliki remaja merasa dirinya berharga. Karakter rasa percaya diri remaja akan serta merta menunjukkan jati diri mereka.
Contoh kasus :Remaja tidak perlu minder walau dirinya bukan anak orang kaya dan memiliki BB ,karena dirinya menyadari dan percaya pada dirinya untuk fokus mengembangkan potensi diri yang dimiliki . Percaya kepada dirinya sendiri bahwa dengan berprestasi dirinya akan diterima dan dihargai walau tanpa harus memiliki BB’
Keempat : Menghargai Orang lain,dan kreatif
Siswa harus dibiasakan untuk menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua,dengan demikian kehadirannya bisa diterima dimanapun berada.Remaja perlu dilatih untuk mengembangkan emotional intelligence agar dalam kehidupannya mendatang dapat menciptakan harmoni social . sedangkan mendorong remaja kreatif adalah agar remaja dapat memberikan kontribusi postif yang bermanfaat bagi lingkungan sosialnya.
Contoh kasus : Adanya kas kecil dikelas masing masing kelas untuk membantu temanya yang sedang dalam kesulitan ,kunjungan rutin ke yayasan yatim piatu dsb dapat menimbulkan rasa emphatic dan kreatifitas siswa untuk meringankan beban “teman sebayanya”
Kelima : Selalu dapat dipercaya dalam perbuatan dan tindakan.
Siswa semestinya menjadi pribadi yang jujur ,dimana mereka dapat dipercaya dalam perbuatan dan perkataannya. Sehingga remaja dapat di berikan kepercayaan dalam aktivitas kehidupan sehari hari dilingkungan sekolah,lingkungan social sampai pada tugas dan amanah yang bersifat regional dan nasional. Remaja perlu dibuat bangga dengan kejujurannya tanpa rasa terancam sehingga remaja sehingga lebih mengutamakan kejujuran daripada bohong . Dengan demikin remaja memiliki dikenal memiliki integritas .
Contoh Kasus:Siswa perlu diberi ruang untuk jujur dalam mengakui perbuatannya atau memperbaiki kesalahan agar remaja melihat manfaat kejujuran bagi kehidupannya mendatang.dengan kejujuran siswa dapat diterima dimana pun berada.
Remaja perlu di beri wawasan agar dapat memiliki citra diri positif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar